Jangan Melukis Berita, Bahaya!

TipsMenulis.Com. | Menulis berita sangat berbeda dengan ketika Anda menulis artikel, esai, atau cerpen, misalnya. Perbedaannya terletak pada cara menuangkan ide dan sumber ide itu berasal. Menulis gagasan dalam sebuah artikel –terutama esai, butuh perenungan lebih.

Dalam artikel atau esai, Anda dituntut untuk memberikan penafsiran atas fenomena yang Anda tulis. Harus memberikan makna dan pencerahan baru bila ingin gagasan Anda muncul sebagai inspirasi untuk pembaca. Itu gagasan Anda sendiri, walau menggunakan orang lain sebagai referensi utama dalam tulisan Anda.

Dalam menulis berita, Anda tidak perlu repot memulung ide-ide orang lain untuk dijadikan munculnya ide awal penulisan. Seorang jurnalis atau reporter media yang sehari-hari memang memburu berita, ia tidak repot bila pada hari ini belum memiliki ide menulis berita besok. Sebab, banyak narasumber yang siap bicara soal apa pun yang ditanyakan. Itulah yang akan jadi bahan menulis beritanya.

Jadi, seorang jurnalis itu, menurut salah satu wartawan senior Tempo, memiliki tugas me-REKA ULANG fenomena yang sudah terjadi, atau menulis-ulang apa yang telah dikatakan oleh narasumber. Inilah sifat berita pada umumnya. Walau berita yang Anda tulis berbentuk investigasi, tetap, ia selalu saja laporan. Ya. Laporan. Wartawan melaporkan apa yang telah terjadi.

Sifat Berita

Wartawan dilarang untuk mengarang berita, apalagi membuat berita fiksi. Ini yang boleh dilakukan oleh penulis esai, artikel, apalagi penulis cerpen, novel, puisi. Kerjaan mereka memang mengarang. Yang dilaporkan kepada pembaca bukan peristiwa faktual yang sudah terjadi sebagaimana wartawan, namun apa yang dipikirkan oleh dirinya, direnungkan olehnya, atau yang hendak dikhotbahkan kepada khalayak.

Jika penulis penuh dengan subjektifitas dalam menuliskan gagasan-gagasannya, maka seorang jurnalis berita, harus objektif. Secara etis, wartawan tidak diperbolehkan “melukis” berita, menambah berita jadi lebih dari yang telah dilihat dan dihadapi. Bahaya. Bid'ah, atau menambahi apa yang tidak terjadi, haram bagi wartawan.

Maka, seorang wartawan harusnya memiliki penglihatan, pendengaran, dan daya tangkap fenomena yang luar biasa. Biar tidak keliru menulis dengan tintanya nanti. Baca lanjut postingan tentang Agar Objektif Menulis Berita. Ada juga postingan menarik: Berita yang Ditulis Sesuai Pesanan. 

0 Response to "Jangan Melukis Berita, Bahaya!"

Posting Komentar

wdcfawqafwef