TipsMenulis.Com. | Menulis berita sangat berbeda dengan ketika Anda menulis
artikel, esai, atau cerpen, misalnya. Perbedaannya terletak pada cara
menuangkan ide dan sumber ide itu berasal. Menulis gagasan dalam sebuah artikel
–terutama esai, butuh perenungan lebih.
Dalam artikel atau esai, Anda dituntut untuk memberikan
penafsiran atas fenomena yang Anda tulis. Harus memberikan makna dan pencerahan
baru bila ingin gagasan Anda muncul sebagai inspirasi untuk pembaca. Itu gagasan
Anda sendiri, walau menggunakan orang lain sebagai referensi utama dalam
tulisan Anda.
Dalam menulis berita, Anda tidak perlu repot memulung
ide-ide orang lain untuk dijadikan munculnya ide awal penulisan. Seorang
jurnalis atau reporter media yang sehari-hari memang memburu berita, ia tidak
repot bila pada hari ini belum memiliki ide menulis berita besok. Sebab, banyak
narasumber yang siap bicara soal apa pun yang ditanyakan. Itulah yang akan jadi
bahan menulis beritanya.
Jadi, seorang jurnalis itu, menurut salah satu wartawan
senior Tempo, memiliki tugas me-REKA ULANG fenomena yang sudah terjadi, atau
menulis-ulang apa yang telah dikatakan oleh narasumber. Inilah sifat berita
pada umumnya. Walau berita yang Anda tulis berbentuk investigasi,
tetap, ia selalu saja laporan. Ya. Laporan. Wartawan melaporkan apa yang telah terjadi.
Wartawan dilarang untuk mengarang berita, apalagi membuat
berita fiksi. Ini yang boleh dilakukan oleh penulis esai, artikel, apalagi
penulis cerpen, novel, puisi. Kerjaan mereka memang mengarang. Yang dilaporkan
kepada pembaca bukan peristiwa faktual yang sudah terjadi sebagaimana wartawan,
namun apa yang dipikirkan oleh dirinya, direnungkan olehnya, atau yang hendak
dikhotbahkan kepada khalayak.
Jika penulis penuh dengan subjektifitas dalam menuliskan
gagasan-gagasannya, maka seorang jurnalis berita, harus objektif. Secara etis, wartawan
tidak diperbolehkan “melukis” berita, menambah berita jadi lebih dari yang
telah dilihat dan dihadapi. Bahaya. Bid'ah, atau menambahi apa yang tidak terjadi, haram bagi wartawan.
Maka, seorang wartawan harusnya memiliki penglihatan,
pendengaran, dan daya tangkap fenomena yang luar biasa. Biar tidak keliru
menulis dengan tintanya nanti. Baca lanjut postingan tentang Agar Objektif
Menulis Berita. Ada juga postingan menarik: Berita yang Ditulis Sesuai Pesanan.
0 Response to "Jangan Melukis Berita, Bahaya!"
Posting Komentar