TipsMenulis.Com | Penulisan berita memang seharusnya
objektif, sesuai dengan fakta yang ada di lapangan (Das Sein), bukan sesuai
dengan yang kita inginkan atau cocok dengan yang seharusnya terjadi (Das
Solen). Sesuai dengan makna bahasanya, berita adalah laporan mengenai kejadian
yang baru terjadi atau pengumuman. Yang terpenting dalam berita adalah menulis
yang nyata sudah terjadi.
Apa menulis berita sesuai kenyataan itu sulit? Jawabannya:
mudah. Bahkan lebih gampang menulis berita sesuai fakta daripada menulis berita
dengan rekayasa. Walaupun berita yang kurang sesuai fakta itu sama dengan
menebar kebohongan dan tidak layak muat secara etika jurnalistik, namun
faktanya, hal itu acapkali dilakukan oleh pemimpin media tertentu untuk
kepentingan dirinya.
Berita yang ditulis sesuai pesanan itulah yang disebut
dengan laporan advertorial atau pariwara. Contoh, bila Anda seorang guru, ingin
mendapatkan perhatian dari pimpinan via publikasi media, cara mudah ya meminta
wartawan yang Anda kenal untuk memuat profil kebaikan Anda agar dimuat di
halaman medianya. Namun, Anda harus mau membayar sesuai tarif yang ditawarkan.
Apakah profil yang dimuat itu bisa tidak sesuai dengan
fakta? Bisa. Walaupun sang jurnalis iklan advertorial itu datang menemui dan
mewawancarai Anda, tapi fakta yang akan ia tulis nanti kan harus ia pilih dan
ia sesuaikan dengan keinginan Anda. Wajar, profil itu memang harus ditulis yang
baik-baik saja.
Contoh lagi berita pariwara adalah kampanye yang disamarkan
dalam bentuk laporan berita. Metro TV dan TVOne pada musim Pilpres 2014 lalu
merupakan dua media yang paling kelihatan keberpihakannya pada masing-masing
calon presiden. Salah satu bentuk keberpihakan yang dapat dirasakan oleh orang
awam sekalipun adalah berita yang berisi pidato tokoh-tokoh yang dipilih. Surya
Paloh (Pemilik Metro), ketika pidato, diulas dalam laporan berita yang rutin
dengan durasi yang lebih panjang dari biasanya. Begitu juga dengan TVOne yang
terkesan norak memberitakan beberapa kejadian Pilpres yang tidak sesuai dengan “titah
sang pemilik”.
Kalau cuma sekadar memuat berita profil dan kampanye terselubung,
sebetulnya masih bisa dibaca siapa yang berkepentingan dan siapa yang mau
dibodohi. Tapi, kalau sudah mewacanakan isu sensitif sesuai pesanan dan menulis
berdasarkan kebencian, huru-hara, dan pesanan dari “god father” dengan
imbalan milyaran, itulah yang sudah masuk dalam angkara murka jurnalisme media.
Perselingkuhan media paling besar adalah mengulang-mengulang berita bohong
sehingga menjadi kebenaran tanpa tanding.
Contoh untuk kasus perselingkuhan media soal making issue
yang sensitif adalah ketika Majalah Tempo mengangkat tema PKI yang NU secara
langsung dan tidak langsung disebut sebagai salah satu pihak yang paling
bertanggung jawab atas tragedi itu. Kontan saja warga NU melakukan protes. Melalui
surat pembaca, ada kader NU yang mengirim ke Tempo. Namun, artikelnya disunat
habis sesuai selera redaksi. Mengapa? Karena dibalik pemberitaan itu, ada
tangan tak terlihat yang bermain.
Kata salah satu dosen STAIN Kudus, Tempo dapat milyaran
untuk membuat laporan berita sensi tersebut dari agen di Amerika yang
menginginkan agar citra NU hancur di mata dunia. Nah, lo!. Katanya, NU terlalu
besar di mata internasional sejak bisa menjalin komunikasi dengan kelompok
Islamis Taliban. Bahkan di Afganistan sudah ada berdiri organisasi bernama
Nahdlatul Ulama Afganistan (NUA). Pamor NU ingin dihancurkan karena terlalu
berpengaruh menurut yang memesan berita.
Nah, berita rekayasa seperti ini kalau sudah memutarbalikkan
fakta, memfitnah dan memelintir kenyataan, jadi karuan ruwet akhirnya. Kalau
untuk kepentingan iklan, ketenaran organisasi, lembaga, atau lainnya, masih
bisa ditoleransi. Namun jika untuk membangun opini sesat demi dolar, siapa pun
Anda, harus berdiri tegak mengatakan: Tidak! (MAB)

0 Response to "Berita Yang Ditulis Sesuai Pesanan"
Posting Komentar